RSS

THE FIRST CHILD

28 Sep

Yati mengomel-ngomel. Sambil terus mengerjakan tugas-tugas rumah, diiringi nyanyian merana dalam hati. Tangannya yang lembut menghentak kencang kursi yang diangkatnya. Kemudian menyapu bagian bawah kursi. Tak lama setelah urusan sapu menyapu selesai, giliran mengepel dia kerjakan ogah-ogahan. Pengennya punya ilmu sulap aja, jadi tiap hari nggak perlu capek begini.

“Kayak babu aja” gerutunya.
Diliriknya Hani sedang asyik membaca di sudut ruangan yang sudah bersih.
“Curang…!” desisnya pelan. “Giliran bersih aja, baru mau keluar. Coba kalau enggak, ngetem terus di kamar sumpeknya.”
Sekarang tangan mulusnya sudah bercampur debu kemoceng. Saatnya mengusir debu dari foto-foto yang dipajang, kemudian meubel, komputer dan TV. Terbalik memang, seharusnya bersihkan debu dulu baru mengepel. Tapi apa peduli Yati? Baginya yang penting siksaan ini berakhir segera, dan tentu saja menyiapkan diri untuk siksaan esok harinya.
“Si Hani tu memang betul-betul honey deh! Nyokap nggak adil! Tiap hari aku terus yang ngurusin rumah, sampai badanku betul-betul kurus dibuatnya. Sementara sayangnya? Huuuh…”
Pagi itu Hani sudah mandi dan wangi, sementara Yati masih bau dan penuh debu. “Sekarang giliran membersihkan dapur, saatnya berubah menyamarkan bau badan dengan asap dapur…” kalimat biasa yang ia lontarkan dalam hati untuk melampiaskan kekesalan.
Ry, aku kok semakin lama merasa menjelma jadi si bawang putih ya? Nyokap selalu keluar pagi-pagi ngurusi toko, bokap juga. Tinggal dua anak bawang yang sangat bertolak belakang. Bawang putih dan bawang merah. Bawang merah kerjanya cuma nonton TV dan baca majalah, sedangkan bawang putih nyapu, ngepel, bersihin dapur, nyuci, nyetrika, beres-beres. Tapi sampai sekarang belum ada pangeran tampan yang melamarnya. Kasihan banget ya bawang putih! Kok jadi kayak babu di rumah sendiri” Yati mengakhiri tulisannya di diary dengan linangan air mata. Tak lama ia tertidur karena sangat capek.
***
“Hani, bantuin dong…” dengan suara dilembut-lembutkan Yati minta bantuan adiknya yang sedang malas-malasan. Bukannya Yati tak bisa tegas, tapi adiknya lebih sering nyolot daripada membantu. Padahal jauh dalam hatinya dia pengen meremas majalah yang sedang dipegang adiknya itu. Pengen rasanya menjitak dia bahkan kalau perlu menyiram ia dengan air bekas mengepel. Tapi daripada si bontot mengamuk dan mengadu, lebih baik dia bersabar.
“Hm…” cuma itu tanggapannya.
Letih yang sudah dia rasakan semakin bertambah dengan jawaban yang cuma pelepas hutang itu. Akhirnya dengan kesabaran ekstra, sang kakak kuatkan diri untuk melanjutkan pekerjaan lain. Membersihkan tiga kamar mandi plus menguras baknya. Ooo… alangkah melelahkan.
“Semakin lama memang betul-betul jadi bawang putih deh atau putri salju dengan ibu tirinya. Kok nyokap tega amat. Selalu melindungi si jelek itu dengan alasan takut asmanya kambuh. Lha, emang aku nyuruh dia yang berat-berat? Aku toh nggak melepaskan sendiri pekerjaan rumah, aku cuma pengen dia bantu aku waktu aku sibuk, bukan hanya senang-senang. Fenny tetangga sebelah juga diperlakukan begitu oleh ibunya, nggak adil dibanding saudara-saudaranya. Tapi itu karena dia anak angkat. Istilahnya pemancing anak karena sudah lama menikah Bu Mia belum juga punya anak. Lalu dia adopsi Fenny, tapi setelah anaknya banyak, dia malah jadikan Fenny seperti pembantu. Memang biaya sekolah Fenny masih ditanggung, tapi sepertinya dia sama menderitanya denganku. Hah?! Apakah aku ini anak angkat makanya nyokap kejam sama aku? Ini harus dibuktikan!”
Dia hampiri cermin. “Kulitku, kulit papa. Posturku juga ngikut papa. Golongan darah sama, hobi sama dan jenis rambut sama. Tapi aku sangat berbeda dengan mama.”
Yati bergegas mengunci diary-nya dan melesat keluar. Ini harus ditanyakan. Mama sedang makan malam bersamam papa dan adik yang paling dibencinya.
“Nggak makan, Ti?” tanya mama.
“Uuugh! Sakit hatiku, makan nggak bilang-bilang. Betul-betul pembantu diriku ini.”
Ingin rasanya Yati mengamuk, tapi wibawa papa membuatnya mengurungkan niat.
“Sini Ti… Papa beli lauk di luar nih. Kangen masakan Padang.”
“Nah kan?! Berarti aku bukan anak mama. Mungkin aku hanya anak papa. Buktinya hanya papa yang perhatian ke aku. Kalimat mama tadi cuma sekedar basa basi. Apa katanya tadi? Nggak makan, Ti? Jadi aku dibiarkan makan sendiri sementara mereka enak-enakan makan bersama!”
Yati mengambil tempat di samping papa.
“Mm… Pa, boleh nggak Yati lihat akta kelahiran?” ujarnya sambil menyendokkan nasi ke piring. Selera makannya sudah menguap dari tadi melihat piring yang ada sudah nyaris kosong. Berarti mereka makan sudah lama tanpa mengajaknya sama sekali.
“Buat apa, Nak?”
Hanya papa yang memanggilnya dengan sebutan nak. Mama? Mana pernah! Dia hanya suka memanggil sayang pada si bontot cengeng di depannya ini. Mengingat itu ingin rasanya Yati menginjak kaki si bungsu.
“Mm… Oooh… Yati kan mau lulus, jadi buat pedoman ijazah.”
“Ooh… Ya, nanti Papa carikan. Sekarang kamu makan dulu.”
Mama mengangkat piring-piring kotor ke dapur, papa mengupas jeruk sambil menemaninya makan. Hani? Dia sudah kabur entah kemana. Yati merasa tidak enak berdua dengan papanya. Bagaimana kalau bukan papa kandung padahal saat ini ia tidak berjilbab? Kemiripan fisik tak bisa jadi alasan ayah dan anak tanpa bukti autentik. Seribu was-was mengayuti pikirannya. Dalam sekian suapan makannya berakhir.
“Kok cepat?” sapa papa.
“Lagi lapar Pa, hehehe…” tiba-tiba saja Yati kaku di hadapan papa.
“Tadi Mama lihat kamu lagi shalat, makanya kita makan duluan” jelas mama yang tiba-tiba nimbrung.
Yati memasang tampang datar. Tanpa respon. Tapi dalam hatinya membalas. “Apa salahnya mengulang setelah shalat? Emang Mama aja yang bisa lapar?” untunglah kalimat itu sekedar suara hati.
“Yok, ke ruang kerja Papa. Papa lupa dimana menaruhnya. Kita cari sama-sama ya.”
Weeeks… Sama-sama dalam satu ruang? Bagaimana kalau ini bukan papanya? Dosa Ti…
“Papa aja dong yang cari… Yati belum bikin tugas nih…” manjanya kumat. Hanya dengan papa, Yati bisa bermanja.
“Kalau nggak salah di map biru deh Pa, coba tengok” eh, mama nimbrung lagi. Kok jadi care gini ya? Apa deket papa aja? Nggak peduli, yang penting satu penelitian malam ini tuntas.
“Nah… ini mapnya. Mau di-copy?”
“Ya… Besok Ti balikin” balasnya. Dengan penuh debar Yati membawa map itu. Saatnya membuktikan dia anak siapa… Tet tereeet…!
Pintu kamar ia kunci rapat-rapat, “Bismillah…”
Pejam mata, buka mata pelan-pelan… daaan…
“Hah?! Aku anak kandung? Si bontot juga anak kandung? Lalu kenapa aku diperlakukan begini?” sedikit kekecewaan menyeruak di hatinya. Kalau saja Yati bukan anak kandung, dia masih bisa menerima perlakuan tidak adil ini. Walaupun ada kekecewaan lain sebagai anak angkat. Tapi ini nyata, tanggal lahirnya, nama lengkap kedua orang tuanya, dan nama dia ditulis besar. Pantas tanpa curiga papa menyerahkan map itu begitu saja. Dia anak kandung, misteri belum terpecahkan.
“Yati…! Mama pergi dulu.”
“Ya… dan tugas menanti…” sambungnya.
Si bontot sedang mendengarkan nasyid.
“Heran deh, biasanya yang namanya akhwat tu peka, gampang nolong. Ini mah enggak. Padahal status kami sama-sama anak kandung. Kenapa bisa dibedakan ya?”
“Hani bantu dong, Ma…” kali ini ia lebih berani. Pikirnya semua harus tuntas atau dia kabur dari rumah.
“Hm… ajak deh…” suara mama seolah keberatan.
“Mama yang ajak.”
“Hani… bantu kakakmu. Mama pergi dulu.”
Cuma itu doang? Coba lihat apa jawaban si manisnya mama ini, “Hm…”
Air mata Yati serasa mengambang di pelupuk matanya. Nangis? Jangan sampai deh. Misteri ini harus terpecahkan dulu, baru nangis.
Ok, sekarang nyapu. Sambil menyapu Yati mengingat masa kecilnya yang sudah dikenalkan dengan sapu, kain pel, dan setrikaan. Setrikanya kuno, beraaat banget untuk ukuran Yati kecil. Tahu apa yang disuruh mama? “Tolong seragam adikmu juga disetrika.”
Saat itu Yati merengut, “Hani kan bisa…”
“Hani masih kecil…”
Dan saat mereka sama-sama beranjak dewasa, si kecil akan selalu kecil. Buktinya sampai sekarang berlindung di bawah asmanya.
“Jeleeek…! Penyakit dipiara. Bantu gue, monyooong..!” matanya mendelik kesal pada sang ratu yang sibuk menonton film kartun. Bawang putih sekali lagi menangis dalam hati.
***
“Kamu enak ya, Fi. Nggak tersiksa kayak aku.”
Fina mendongak dari bacaan yang membuat ia terpekur.
“Kamu bilang apa? Nggak salah nih?”
“Aku iri sama kamu. Kamu beruntung.”
“Lho… Aku kok merasa kebalikan ya? Kamu anak orang kaya, punya segalanya. Sedangkan aku? Jauh di bawah kamu.”
“Tapi kamu kan nggak perlu kerja berat” Yati menjawab lesu.
“Kerja berat? Emang anak mama gini kerja berat?” Fina menggoda.
Yati tak menanggapi. “Aku capek nyapu, ngepel, bersih-bersih, tapi adikku enak-enakan nyantai di rumah” keluhnya.
“Aku juga gitu kok. Biasalah, anak pertama…”
“Tapi kan nggak adil. Eh, tapi kamu kan nggak perlu kerja seberat aku? Rumah kamu…” Yati mendekap mulutnya yang nyaris lancang.
“Kenapa? Kecil?” Fina menanggapi tenangtanpa emosi.
“Maaf…”
“Tapi kita sama-sama capek kok, Ti. Yok pulang, sudah siang.”
Yati menurut tanpa suara, walau hati kecilnya bertanya-tanya tentang ucapan Fina barusan.
***
Terulang lagi, Yati betul-betul dibuat gemas dengan kekesalannya sendiri. Masih soal pekerjaan. Hani nggak mau bantu, nyokap no comment, bokap udah pergi kerja. Kemarahannya memuncak, tapi segera dia meninggalkan tempat sumber kemarahannya.
“Aaah… untung aku langsung keluar rumah, kalau tidak mungkin kata-kata kotor bisa terlontar dari bibirku” mulutnya mengucapkan istighfar menenangkan diri. Motor yang dibawanya melaju pelan, tanpa tahu tujuan.
“Ke rumah Fina aja, dengannya aku bisa berbagi” putusnya.
Sepanjang jalan masih menggayut di pikirannya tentang mama dan Hani. Juga rengekannya yang baru sekali ini agar Hani membantu pekerjaan rumah. Merasa seolah diacuhkan, dia tinggalkan rumah yang masih sangat berantakan. Mama sedikit terkejut, begitupun Hani.
Tes! Setetes tangis mengaburkan pandangannya. Yati segera memarkirkan motornya. Tak ingin terjadi kecelakaan karena tidak konsetrasi. Ia mampir di sebuah kedai minuman tak jauh dari rumah Fina. Matanya masih sembab, hidungnya memerah jambu.
“Teh botol satu, Mbak.”
“Ya…” suara yang tak asing di telinganya.
“Fina?”
“Eh… Yati?” yang ditanya tak kalah kagetnya.
“Kamu kerja di sini?” matanya membesar tak percaya.
“Ini kedaiku kok. Pulang sekolah sampai sore aku ngendon di sini. Kenapa? Kok heran?” jawabnya ringan. Sama sekali tak ada malu yang ditutupinya.
Yati masih terpaku tak percaya. Sampai Fina menyodorkan pesanannya.
“Kamu nggak capek?” tanyanya sambil menyeruput minumannya.
Fina tersenyum.
“Kan udah aku bilang kalau kita sama-sama capek.”
“Berapa dek?” seorang supir angkot menyebut apa yang sudah dipesannya.
“Enam ribu lima ratus” jawab Fina. Sepertinya dia sudah profesional, tak ada kecanggungan dalam melayani pembeli. Sorot mata Yati membesar, mengagumi sahabat di depannya yang sibuk mencari uang kembalian.
“Fina sang juara, yang super pinter dalam bergaul, ternyata kerja beginian tanpa malu? Sedang aku?” malu menyusupi hatinya.
“Tapi kamu kan lebih capek” Yati menyambung percakapan setelah sopir itu pergi.
“Yah beginilah jadi the first child, punya beban yang lebih besar dari adik-adiknya. Kalau nggak dagang, aku nggak bisa sekolah dong…”
Yati semakin malu. Gadis di depannya sangat tegar. Tak pernah mengeluh soal capeknya sebagai anak pertama. Malah selalu kelihatan ceria tanpa beban. Makanya Yati terkejut setelah mengetahui keadaan sebenarnya.
“Ngomong-ngomong, mau kemana nih? Trus kenapa tu mata sembab gitu?” teguran Fina menyadarkan Yati dari lamunan.
“Ah, nggak. Lagi bete aja, pengen jalan-jalan” Yati menutupi kegugupannya.
“Ntar item loh…”
“Nggak apa-apa, sekali-kali. Kamu sendirian?”
“Ada ibu di dapur. Masakin pesanan, aku yang ngantar.”
“Adik-adikmu?”
“Macem-macem, ada les, ada yang ngajar privat, kadang-kadang si bungsu suka main di sini.”
Loh, Fina menyebut adiknya yang masih bayi. Lagi-lagi Yati menggeleng. Kerja sambil ngurusin baby? Alangkah repotnya. Yati aja yang punya satu adik suka jengkel melihat kelakuannya. Tapi Fina? Wow, udah cocok jadi ibu rumah tangga kayaknya.
“Nggak capek?”
Fina terkekeh.
“Katanya kamu yang paling capek sedunia?” godanya. Untung kedai sedang sepi, jadi mereka leluasa bercengkrama.
Yati menunduk malu. Dia seruput minumannya sampai tandas. Salah seorang adik Fina baru datang dari TPA dan langsung melempar senyum manis ke kakaknya. Fina membalas tak kalah hangat sambil mecubit pipi tembem adiknya.
“Ama adik kok bisa akur? Aku perang terus” cetusnya.
“Ya harus sering ngalah dong…”
“Ama nyokap, akur?”
“Duuuh… wawancara nih ceritanya? Aku paling deket sama nyokap. Dan udah kayak nyak-nyak, hehehe” senyum cantik menyembul di antara jilbab birunya.
“Kok aku nggak?”
“Suka manyun kali…” aaah Fina memang enak diajak diskusi. Dia tak pernah menggurui, jadi kita terima sarannya tanpa sakit hati.
“Hm… udah ah, mau pulang.”
“Kok cepet? Nggak ke rumah dulu?”
Thanks, ntar ganggu, lagi. Berapa?” Yati mengeluarkan dompet.
“Salam ya buat keluarga.”
“Belum kok.”
“Apaan?”
“Belum berkeluarga hehehe”
“Uuuh… maksudku buat ibu, ayah en adik kamu” Fina manyun.
“Heheheh… berapa nih?”
“Apaan?”
“Minuman tadi?”
“Nggak usahlah…”
“Ye… jangan gitu dong.”
“Maksudku… nggak usah disimpan duitnya. Sini…” Fina memaksa dengan teganya.
“Huuu…”
Uang kembalian berpindah tangan.
“Wah, murah nih.”
“Biasa. Harga nego kalau sama teman.”
“Makasih yaaa…”
“Yup! Hati-hati di jalan.”
Assalamualaikum.”
Alaikum salam.”
“Yati melambaikan tangan. Kemudian menstarter motornya.
Pikirannya sudah agak ringan sekarang, ternyata dia bukan bawang putih atau putri salju yang menderita. Dia jauh lebih beruntung dari gadis dalam cerita dongeng tersebut. Bahkan Yati juga masih beruntung dibanding Fina. Karena Fina menjalani hari-hari tanpa beban makanya dia tidak tersiksa.
Ia mengucapkan hamdalah dan beribu pujian buat Sang Pengasih dan Penyayang. Terasa ruginya selama ini hanya capek yang dia dapat. Coba kalau kerjanya ikhlas tanpa iri-irian sama Hani, pasti dia dapat dobel. Tubuh langsing (eheeem…) dan pahala besar.
“Besok aku harus berubah” tekadnya. Urusan Hani mau bantu atau tidak, nggak jadi masalah. Mungkin mama terlalu kuatir jadi membiarkan Hani seperti itu. Walau dari satu sisi membiarkan Hani bermanja itu salah. Dia tidak bisa mandiri.
Mungkin sayang mama terlalu berlebihan pada si bungsu, tapi Yati yakin mama juga sayang dia. Buktinya mama tidak pernah memperlakukan dia seperti Fenny. Yang terjadi tak usah dipermasalahkan. Yati ikhlas kok, kan dia sudah dapat sayang lebih dari papa. Tuhan Maha Adil, bukan?

 
Leave a comment

Posted by on September 28, 2012 in Story

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: